Senin, 02 November 2015

Puisi alam " Alam, Maaf kami serakah "


Sungguh betapa indahnya alam ini
Hutan lebat nan hijau
Dengan beragam tumbuhan unik di dalamnya
Gunung-gemunung yang tinggi menjulang
Yang ketinggiannya mencakar langit
Laut biru yang amat luas seluas mata memandang

Akan tetapi…
Tangan-tangan manusia dengan seenaknya merusak alam
Pohon-pohon ditumpas habis tak bersisa
Sungai-sungai ternodai limbah pabrik
Hutan-hutan dibakar habis tak keruan

Mengapa manusia merusak alam?
Bukankan alam sendiri yang menyediakan kebutuhan manusia?
Padahal manusia akan terkena dampaknya
Jika mereka merusak alam

Minggu, 01 November 2015

Puisi "Mahabbah Bundah "


Seperti bulan yang terangi malam
Kau sinari jiwaku
Seperti fajar yang tak pernah terlambat bersinar,
Kau berikan kasihmu

Seperti udara yang selalu ku hirup,
Ku butuhkan dirimu

Seperti darah yang mengalir dalam tubuhku,
Kau selalu ada untukku….

Tanpa kupinta,
Tanpa ku balas,
Tanpa ku sadari,
Kaulah yang selalu ada untukku,

Meski tak di saat aku bahagia,
Tapi di saat aku sedih,

Meski tak di saat aku tertawa,
Tapi di saat aku menangis,

Bunda

Kau sangat berarti untukku
Memberi damai dan membagi kasih,
Jangan pergi dariku,
Sebelum aku mampu membahagiakanmu

puisi " berjuang dengan mimpi "


Mana temanku . . .
Mana orang yg ku anggap sahabat . . .
Mana sang penghibur saat
Aku terluka dan berhiaskan air mata.

Meraka tak pernah ada . . .
Sahabatku tak pernah hadir
Sedetikpun di pelupuk mata . . .
Tapi aku tatap melangkah . . .
Meraih mimpiku . . . . . .

Meski luka menghias di dinding jiwa . . .
Meski raga sepi ditinggal pergi teman sejati . . .
Namun langkahku tak berhenti . . .
Hanya sampai di sini . . . . . .

Karena kini ku tak peduli lagi . . .
Sakit yang terlukis dihati
Teman yang tak lagi ingin temani . . .
Kerana aku akan tetap melangkah . . .
Wujudkan mimpiku . . .

Demi impianku . . .
Lelah ku kan tetap berlari.,.
Letih ku kan tetap melangkah . . .
Demi impianku . . .
Demi cita-cita yang telah
Sekian lama kulukis dalam
Lembaran kisah hidupku . . . .

puisi " masi ku ingat senyummu "


Garis senyummu masih terlukis di langit senja
Bening suara yang menyapa masih tertanam di dalam jiwa
Belai lembut jemari masih menggetarkan ego di dada
Tak mungkin lepas namamu dan terlupa

Ku berlari bukan karena ku ingin jauh
Ku diam bukan karena tak mampu menjawab
Ku biarkan waktu mengalir agar kita tetap berfikir
Tentang cinta dan cita

Maaf ku tak pandai berbicara
Maaf ku tak pandai merangkai kata
Bahkan untaian sederhana yang kau harap
Tak bisa ku ungkap

Kebenaran akan tersingkap
Waktu itu akan menjemputmu
Hanya bila kau tetap bersinar
Hanya bila kau tetap berbinar
Maka ku kan kembali bersandar ...

Puisi " berharap kejujuran "


Malam datang dengan angkuh
Antarkan jiwa untuk merindu
Lingkaran kisah ku dan kau,
Akhir duka merasuk cinta


Rindu denting membenci
Artikan hadirmu tak kuingin
Malam selalu memandang
Altar maaf yang tak terhidang
Lelah ku menunggu
Akankah kau mengerti!
Wanitaku kau gadisku!

Permaisuriku...
Temaramku buai namamu
Inginkan kau pergi dan kembali
Binar asa yang telah terpadam
Rasa membenci namun merindu

Permaisuriku ...
Izinkanlah hatimu tuk jujur
Mencintaku bukan kesalahan !

Artimu lebih dari sgalaku
Nyawamu adalah nafasku
Gunakanlah hatimu
Untuk mengerti semua ini !

Namun ...
Senyum itu kini menghilang
Oleng melayang entah kmana
Nyatakan kau tuk dirinya
Gagalkan jujurmu demi janjimu !

Puisi " Mahabbah bersemi"


Lembut tatapan mu meluluhkan ketakutan ku
Naluri mencintai berlari menghampiri hati
Merayu untuk kembali.....
Memaksa cinta berdiri dari keterpurukan hati

Kasih putih....
Menghampar luas dihadapan
Mengisyaratkan dua hati saling bertaut kasih
Mendekat dan mendekap ingin menyatukan menjadi segumpal keindahan

Halusnya jari jemari cinta mu
Membelai indah hati yang luka
Sedikit demi sedikit menghapus cerita lama
Memulai cerita dengan keikhlasan cinta

Alunan jeritan sayang merdu terdengar
Mengalir mengikuti alur takdir
Berniat untuk mengakhiri kemuara Cinta
Menenggelamkanya sambil berpelukan
Cinta ku... Cinta mu.....

Minggu, 18 Oktober 2015

Puisi “ASYIFAUL QULUB” Ihya Ulumuddin QS



Ada gemuruh yang merajam dada
Saat kutatap wajahnya yang jelita
Lesung pipi yang semanis madu
Senyu merayu menikam kalbu

Pada senja jingga aku bertanya
Apakah ini lukisan cinta?
Dalam anganku terbingkai wajahnya
Disetiap nafasku terselip namanya

Pada bulan purnama aku bercerita
Separuh jiwa telah direnggutnya
Pada malam sendu aku mengadu
Sekeping kalbu kian membiru

Semilir bayu dating menyapa
Aku terkena rindu asmara
Hati dan jiwaku telah terluka
Hanya dirinya pengobatnya


Karya : Ihya Ulumuddin QS

Puisi "Revolusi Mental" By Ihya Ulummuddin QS



Sekian lama negeri ini berjalan di tengah kegelapan
Nafsu sebagai standar kebenaran
Tolak ukur manusia ternilai dari kekayaan

Bagi bagi kedudukan sbagai tradisi
Kesejahteraan rakyat terinjak
Oleh kepentingan golongan pribadi
Harta, tahta dan wanita gelapkan hati nurani

Datangnya cahaya berubahnya sikap negeri ini
Keikhlasan tanpa pamrih pondasi
Yang utama terbentuknya suatu negeri
Akhlak watak dan kepribadian
Ukuran setiap jiwa insane

Berpihak pada rakyat segala kebijakan
Hingga terbentuknya ekonomi kerakyatan
Adil dan sejahtera menjadi kenyataan
Untuk meneruskan sebuah perjuangan


Karya : Ihya Ulumuddin QS

Puisi “UNTUKMU KYI (Romo KH Thoha Ahal)” karya Ihya Ulummuddin QS





                                                                    Pagi yang senyap
Terdengar merdu siualan hijaiyyah
Kalam kalam melayang di angan
Jemaripun ikut bermain riyang
Singkat gerik seseorang
Tertawan dalam jeruji Ilmu

Jam terbungkam
Aktu seolah tak berputar
Huruf huruf riang menertawakan
Berlari lari dipapan kejenuhan

Implus tak kunjung dating
Hati bersanggit membantah
Tumbuhkan rasa tanpa geletar
Menampik momentum diambang rengkuhan


Karya : Ihya Ulumuddin QS

Izinkan Aku Menyayangimu



Kupandang langit
Kupandang bintang
Namun hanya sia sia
Pandanganku Cuma satu arah

Memandang kamu
Walau dalam memori
Memori tentang ingatanmu
Tentang kita yang pernah dekat

Kau yang disana
Ku tak tau perasaan ini terhadapmu
Ku cinta namun benci
Benci bila saat kau dekat dengan yang lain

Perasaan yang kupendam ini
Terlalu sakit untuk dipendam
Ku tak berani tuk ungkapkan
Maka izinkan ku tuk menyayangimu

Menyayangi seseorang dalam hati
Memanglah sulit tuk dijalani
Apa mungkin hatimu peka terhadapku
Dengan semua sikapmu terhadapkumungkin sayangku ini tak kau sadari
Namun kucoba bantu tuk menyadarinya

Karya : Ihya Ulumuddin QS

Sabtu, 17 Oktober 2015

Puisi Berjudul "BALADA" Karya Ihya Ulumuddin QS



Kehebatan langkah kakimu yang kuat
Begitu hebat menerjang kemunafikan tikus bercadar
Kejujuran lisanmu saat berkata
Terus menembus dinding dinding yang ingin menghancurkanmu

    Santun senyum dan sendu lambaian tanganmu
    Tanpa pamrih merangkul insane yang tak berdaya
    Keistiqomahanmu yang begiti terjaga
    Menjadikan malammu selalu tenang walau dalam tekanan

Balada aku memanggilmu
Balada aku bersamamu
Begitu sangat masyarakat mengagumimu
Dalam keilegalan yang katanya

 Teruslah Berjuang nak
 Kearifan selalu terpancar dalam jiwamu yang arogan
 Teruslah berkreasi nak
 Pangkal jayamu ada dalam kedipan mata..

Teruntuk Oi Balada Dukuh
Karya : Ihya Ulumuddin QS