Assalamualaikum wr wb
Untuk kang akang Nabil yang saya sayangi
Mungkin kedatang surat saya ini sangat mengagetkan bagi kaka, jika benar begitu adanya saya mohon maaf
sebesar-besarnya.
Kedatangan
surat saya ini hanya ingin menyampaikan bagaimana sebenarnya perasaan saya
terhadap panjenengan. Entah kata apa yang pantas Urwah pilih untuk
mengunggkapakan perasaan alami ini. Ana uhibbu anta yaa habibi qalbi….mungkin
kata itu yang pantas mewakili hati saya. Lancang memang, namun inilah yang saya
rasakan. Entah perasaan ini akan terbalas atau tidak, semua ada pada keputusan kaka Nabil.
Mungkin
hanya sampai di sini surat saya, tinta yang saya gunakan telah habis untuk
menterjemah mutiara cinta dalam jiwa.
Wassalamu'alaikum
Urwatul Wusqo
Urwatul Wusqo
Nabil tersenyum membaca tulisan tangan itu, 'begitu dalamkah
cinta Urwah terhadapnya?' dia membatin. Kini dia bingung harus bagaimana,
perasaan senang bercampur bimbang. Senang karena cintanya tak bertepuk sebelah
tangan dan bimbang apakah orang tua urwah akan menerimanya jika kelak dia
melamar urwah.
Urwatul Wusqo adalah anak dari orang terpandang, apalah arti nabil dimata keluarga itu. Nabil hanya anak dari seorang petani, yang berusaha menyalurkan ilmu dengan menjadi Santri dan dengan ciri khas rambut Kriting yang menyertainya. Belum lagi usia urwah yang terpaut 4 tahun dari nabil, meski terlihat masih muda tapi usia nabil sudah 24 tahun. 'Benar-benar kontras, bagaikan langit dan sumur!.' Nabil tersenyum kecut.
Urwatul Wusqo adalah anak dari orang terpandang, apalah arti nabil dimata keluarga itu. Nabil hanya anak dari seorang petani, yang berusaha menyalurkan ilmu dengan menjadi Santri dan dengan ciri khas rambut Kriting yang menyertainya. Belum lagi usia urwah yang terpaut 4 tahun dari nabil, meski terlihat masih muda tapi usia nabil sudah 24 tahun. 'Benar-benar kontras, bagaikan langit dan sumur!.' Nabil tersenyum kecut.
Keesokan paginya, disaat nabil mengantarkan
krupuk dagangan ke kantin pondok, dia melihat urwah bersama dengan Ayahnya. Nabil memilih menunduk dan berjalan terus, dia pikir urwah takkan menyapanya karena
gengsi, namun nabil salah menduga, urwah memanggilnya dan memperkenalkan nabil pada Ayahnya, pak saiful. Semakin yakinlah Nabil menyandarkan perahu cintanya
yang selama ini berlabuh di dermaga cinta milik Urwatul wusqo.
Hari demi hari Nabil lalui dengan
kehadiran Urwah sebagai pelengkap hidupnya, benih-benih cinta tumbuh diantara Mereka
berdua.
Hingga tiba saat Nabil memberanikan diri
untuk meminang Urwah, berbekal cinta tulus dan sebuah keikhlasan, Nabil mengetuk
pintu rumah Urwah.
Tanpa basa-basi Nabil langsung
mengutarakan niat baiknya, namun Pak saiful tak melihat niat baik nabil, dia
merasa harga diri keluarganya dilecehkan.
"Anakku tak pantas menikah dengan Penganggur
sepertimu!, mau makan apa anakku jika dia bersamamu,?!. Apakah kau tak melihat
betapa kontrsanya perbedaan kau dan anakku, apakah aku akan rela menikahkan
anak gadisku denganmu yang hamper kepala tiga, pakai otakmu, katanaya santri
kok tidak tau malu?!!!. Sekarang silahkan pergi dari sini dan jangan pernah
kembali lagi!" Pak saiful meradang, dia mengusir Nabil. Nabil berdiri dan
hendak mencium tangan Pak saiful sebagai tanda bahwa dia masih memiliki sopan
santun meski telah dicaci maki seprti itu, namun lagi-lagi pak saiful menguji
kesabaran nabil, dia menepis tangan nabil. Sebelum keluar nabil melihat urwah menangis dipelukan ibunya, hatinya semakin perih melihat orang yang dicintai
menangis, sesak rasanya dada nabil. Hujan yang turun melengkapi semua
penderitaan nabil hari ini, dia mendengar urwah yang terus memanggil namanya,
namun tak ingin lagi dia menoleh dan menambah luka di hatinya dan hati urwah. "Semua demi kebaikanmu Dhe'ur…', dia terus menembus derasnya hujan
meninggalkan rumah sang pujaan dan mencoba menyelami arti kehidupan.
Satu bulan sudah Nabil menghindar dari urwah. Nabil tak ingin melihat orang yang dicintainya semakin terluka atas
kehadirannya, 'cukuplah aku yang terluka adinda, tak usahlah kau jua'. Bulan
depan adalah khataman bagi santriwati kelas akhir, urwah juga
termasuk di dalamnya. Nabil sedikit bisa bernafas lega, namun dia tak dapat menutupi
kegundahan hatinya, urwah akan pergi meninggalkannya.
26 mei 2015, lagu shalawat badar
mengiringi para santri pertanda akan dimulainya acara khataman. Tak sedetikpun mata Nabil terlepas dari
panggung, dia ingin melihat urwah mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ada
seseorang yang menepuk pundak Nabil dari belakang, ya itu adalah Pak Saiful dan seorang
laki-laki telah berdiri di belakang Nabil. Nabil bersikap biasa saja, seolah
kejadian yang lalu tak pernah terjadi.
"Assalamu'alaikum pak, gimana
kabarnya?" Nabil menjabat tangan oran-orang itu dengan hangat.
"Wa'alaikumsalam, baik nak. Saya
mau minta maaf pada nak Nabil atas kejadian yang dulu pernah terjadi, lalu
saya ingin memperkenalkan calon urwah pada nak nabil", Nabil berusaha setengah
mati untuk mengukir senyum dibibirnya. Hatinya remuk, badannya mati rasa,
penglihatannya mulai kabur terhalang air mata. Dia tak menyangka bahwa lelaki
yang berdiri di depannya sekarang ini adalah calon pendamping hidup urwah. Dhe'ur,
wanita yang selalu ia rindu, satu-satunya wanita yang ia sebut namanya dalam
sujud panjang malamnya.
Nabil mencoba menjadi pendengar yang
baik, selama ini itu bukan masalah, namaun sekaran dia akan mendengarkan kisah
tentang calon pendamping wanita yang ia cintai, hati Nabil semakin remuk
redam.Cerita usai, keluarga urwah berpamitan.
Nabil kembali ke belakang panggung dengan
langkah gontai, dia tertunduk lesu. Ia menangis, menangis untuk cintanya yang
kandas di tengah jalan. Ada suara langkah kaki mendekat,urwah.
“ka Nabil…” urwah mulai terisak, dia
mendengar semua percakapan ayahnya dengan Nabil.
“Iya dhe?” air mata Nabil menetes samakin
banyak, Nabil benci dirinya, dia benci membuat orang yang ia cintai menangis
karenanya.
“Maafkan urwah yang telah merusak
menghancurkan masa depan ka Nabil. Mungkin ALLAH tau bahwa urwah bukan
permaisuri yang baik bagi pangeran penggenggam surga seperti ka Nabil..”.
Mereka berdua terdiam dalam keheningan, “dhe'urwah…bolehkah ka Nabil menyanyikan
sebuah lagu untuk adhe, mungkin ini adalah yang terakhir kalinya kita
bertemu..” urwah mengangguk.
Bersamamu kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
Tak sanggup bila harus jujur
Hidup tanpa hembusan nafasnya
Hidup tanpa hembusan nafasnya
Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini, biarkan cinta ini
Hidup untuk sekali ini saja
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini, biarkan cinta ini
Hidup untuk sekali ini saja
Suara Nabil mengalir merdu, pilu dihati
semikin terasa, setelah lagu itu dinyanyikan, urwah pergi meninggalkan Nabil,
dengan berat hati urwah mengayunkan langkahnya . Sendirian dengan kehampaan yang
menjadi teman, Nabil menangis dan terus menangis.
***
Satu minggu setelah khataman, Kang Didin,
sahabat Nabil mendatangi rumah urwah, untuk menyampaikan amanat dari Nabil.
“Asslamu’alaikum, urwah” sapa kang didin setelah pintu dibuka oleh urwah.
“Wa’alaikumsalam, kang didin. Ada apa
ya?”. Kang didin menyodorkan buku berwarna biru kepada urwah, “ini buku milik
Nabil, kemarin dia…dia mengalami kecelakaan..” kang didin tertunduk. Bagaiberibu pedang menusuk jantung urwah, lelaki yang ia cintai kini telah terbaring di rumah sakit.
Betapa cepat waktu itu berlalu, seminggu yang lalu dia masih bisa mendengar
suaranya, meski diiringi tangis.
Dengan cepat urwah masuk ke rumah berganti
pakaian, dia ingin mengunjungi rumah sakit tempat Nabil dirawat. Diantara Kang dudin, urwah pergi bersama ayahnya pak saiful menuju tempat dimana orang yang dicintainya terbaring lemah, dan
disinilah dia, di depan orang yang ia sayang hingga sekarang, Nabil
Ubaidillah. Urwah terduduk disamping tempat tidur Nabil, dia menahan tangisnya, sakit
hati melihat orang yang ia sayang telah terbaring lemah. Betapa Nabil
mencintai urwah dengan sepenuh hati, melihat kejadian itu sontak pak saiful orang tua urwah merasa bersalah, pak saiful benar benar melihat bahwa nabil & anaknya urwah memang benar sama saling menyayangi. Melihat kesedihan yang nampak terlihat dari wajah anaknya, pak saiful pun berkata, "apabila nak nabil sembuh, ayah ingin mempersatukan kalian berdua." Dan tersenyumlah bibir urwah mendengar perkataan ayahnya itu.
Selang tiga minggu berlalu, melewati masa kritis yang bgthu menghawatirkan, akhirnya nabil pun sembuh, terbangun ia dari tempat tidurnya dan yang pertama ia lihat adalah sosok urwah yang begitu setia menemani nabil di saat masa kritis tngah menghampiri nabil. Setelah kesemembuhan nabil, langsung pak saiful menikahkan keduanya tanpa berfikir panjang. Krena memang pak saiful tau kalau nabil bgthu sngat mncintai urwah, jadi tak mungkin nabil tolak.
Acara pernikahanpun dimulai, hidup bahagialah kedua insan itu dengan keridhoan dari Allah dan ayah urwah.
Selang tiga minggu berlalu, melewati masa kritis yang bgthu menghawatirkan, akhirnya nabil pun sembuh, terbangun ia dari tempat tidurnya dan yang pertama ia lihat adalah sosok urwah yang begitu setia menemani nabil di saat masa kritis tngah menghampiri nabil. Setelah kesemembuhan nabil, langsung pak saiful menikahkan keduanya tanpa berfikir panjang. Krena memang pak saiful tau kalau nabil bgthu sngat mncintai urwah, jadi tak mungkin nabil tolak.
Acara pernikahanpun dimulai, hidup bahagialah kedua insan itu dengan keridhoan dari Allah dan ayah urwah.
Nb : ya seperti itulah kisah cinta nabil dan urwah, yang mereka lalui dengan begitu sabar dan ikhlas walau cobaan bertubi tubi datang menghampiri mereka.
Maka itu "pertahankanlah cinta yang sekarang kalian miliki, walau jodoh sudah ada yang mengatur, namun Semoga Allah bisa melihat atas semua perjuanganmu dan menjadikan semua perjuanganmu adalah jodohmu."
Terima kasih..
Di buat di ponpes Hibba Ilahi babakan
22 september 2015
Ihya ulumuddin QS
ag
Ra
4 komentar:
hiks hiks hiks .... !!!
ndodok sedelat bari digoncang . niatt ingsun angirutt sukma ragane si ( A ) madep mantep mariiing awak ingsun ... hahahha
Apa kui.. perasaan isie iku kang fadly kbeh
mantapp lahhh tulisanmu
Tulisan opo toh kang..
Posting Komentar