Kereta
itu tetap berjalan. Sesekali singgah dari stasiun satu ke stasiun yang
lain. Pekatnya malam tetap menggelayuti dalam deru laju kereta. Langit
tetap saja padam. Tak mampu menampakkan gemerlapnya. Langit bersisik
kemerahan. Pertanda mendung masih menggelayuti dan hujan siap menemani.
Ia membatin
“Abi,
Ummi, Kenapa kalian terlalu cepat meninggalkanku? Kenapa kalian tega
melihatku seperti ini? Abi, petuah petuah bijakmu tak lagi menghiasi
malamku? Ummi, pelukan hangatmu tak lagi kurasa dalam dinginku? Abi,
Ummi!!! Wajah ini menitikkan air mata.”
“
Abi, Ummi, Apa yang akan terjadi dengan kehidupanku esok hari? Masihkah
aku dapat terjaga untuk bersujud dihadapan-Nya ketika aku tak mendengar
lantunan kalam ilahi dalam setiap muroja’ahmu? Abi, Masihkah aku dapat berada di jalan-Nya ketika petuah petuahmu tak lagi menyapaku? Abi,
Ummi……lihatlah hari hariku bersama mimpi mimpi kecilku. Semuanya terasa
hampa tanpa kehadiranmu. Lama lama akan melahapku dalam kebingungan
yang tak terbantahkan.”
Malam
semakin pekat. Langit belum menghentikan curahan rezeki dari –Nya.
Burung gagak bernyanyi riuh bersahutan. Menukik keras di dahan kering
untuk berteduh. Angin malam mulai menyeruak bersama tetesan air hujan
yang tak berhenti bercurah. Suara derit kereta yang memecah malam
menambah mendung di wajah anak itu. Perlahan lahan bibir ranumnya
bergerak hebat. Matanya menitikkan air mata melebur bersama tetesan air
hujan. Tangan kecilnya mencengkram kuat kepalanya. Jiwanya bergetar
hebat ditengah derit kerasnya roda baja kereta. Bersama angin malam yang
berhembus menantangnya.
Tiba
tiba semua kenangan terbayang jelas di pelupuk matanya. Wajah Abi dan
Umminya yang penuh wibawa berkelibat dalam benaknya. Wajah keduanya yang
teduh ketika mendidik dan mengajarinya berbagai macam hal yang belum ia
ketahui sebelumnya. Abinya yang tak pernah mengeluh dalam setiap
usahanya, selalu menampakkan nafas nafas perjuangan dalam setiap
langkahnya. Umminya yang tak pernah mengeluh dalam menemani langkah
kecilnya. Menjadikannya anak yang berjiwa gagah yang pantang menyerah.
Hidup dalam jalan dakwah dan tatanan islam.
Ketika ayam jantan belum banyak berkokok
dengan tenangnya. Bercengkrama dalam dunia malamnya. Hanya sedikit yang
bersujud pada-Nya. Dan sesekali penikmat dunia malam yang telah habis
masa tenggangnya. Mereka berdua bangun untuk menyambut panggilan – Nya.
Berdoa dalam setiap sujud keduanya. Merenungi dalam membaca firman
firman-Nya. Bercucuran air mata ketika membaca ayat ayat tentang siksaan dan adzab-Nya.
Dan berdoa ketika berita gembira yang dijanjikan-Nya. Kala itu Rehansyah akan terbangun dan ikut larut dalam sujud panjangnya. Mendengar nasihat
nasihat penggugah jiwa dari sang murabbi, Abi dan Umminya.
Ketika Adzan shubuh menggema, masjid adalah tujuan utama mereka dalam memperoleh
ridho – Nya. Kemudian, Abi dan Umminya akan sibuk dengan aktifitasnya.
Abinya tak lupa untuk menelaah sebentar pelajaran yang akan ia ajarkan
pada murid muridnya. Umminya, memasak, membersihkan rumah dan menggosok
pakaian yang akan dipakai Abinya mengajar dan juga pakaian sekolah Rehan.
Dan
kini ia harus menelan kenangan itu dalam hatinya. Menari nari dibalik
pelupuk matanya. Menangiskan rentetan air mata kepedihan yang jatuh di
gerbong kereta malam itu. Batin Rehan makin membuncah. Pikirannya
terbang kesana kemari. Kalut. Jiwanya tersungkur lemah. Di dalam relung
hatinya yang paling dalam, ia rasakan jiwanya bergetar hebat, kemudian
lemah dan lemah, ada rasa putus asa dalam benaknya.
“Ternyata malam itu adalah nasihat terakhirmu, Abi. Ternyata malam itu adalah tahajud terakhirku
bersama kalian berdua. Ternyata itu adalah tangisan terakhirmu untuk
membangunkan lelapku, Ummi. Dan ternyata pagi itu adalah awal dimulainya
kehidupan baruku, Ummi. Lepas dari pelukan hangatmu, tak merasakan lagi
kehangatan jiwamu.”
“Abi, Ummi. Dan pagi itu juga aku harus sendiri.”
Abi
dan Umminya meninggalkannya dengan tiba tiba. Kepergiannya berdua tak
disangka sangka. Tak ada tanda tanda sakit diantara keduanya. Ruh itu
pergi ketika mereka akan berangkat untuk menebar benih benih kebaikan
kepada para muridnya. Ruh itu pergi ketika mereka berangkat mengajarkan
kemuliaan untuk masa depan generasinya kelak. Ruh itu pergi ketika Dhuha
menghiasi tanah-Nya. Dan Allah memanggil mereka melalui tabrakan keras
yang merenggut nyawa mereka berdua.
Kala itu tanah berkabung. Langit langit meneteskan air matanya. Padi yang telah menguning menumpahkan rasa
sesalnya. Dan Rehan hanya berdiri mematung. Ia tumpahkan kegundahan
dihatinya. Ia tumpahkan semuanya. Dan ia sadar, hari itu ia harus benar
benar tegar dalam menghadapinya. Walau hati teriris bersamanya, walau
kekalutan menghantui jalan pikirannya, walau hati tak dapat menerimanya.
Ia tetap sabar, ia masih punya seajaib nyawa untuk menemani dalam
sebatang karanya. Dan ia harus belajar dari semuanya. Dan ia terlihat
lebih tegar hari itu.
Anak
itu merunduk, menatap riuh bebatuan bebatuan dibalik kolong gerbongnya.
Memandang pahit kedalam masa silamnya. Ia bergerak. Menggenggam
jemarinya dan melumatkan air hujan dalam cengkramannya. Ia berdiri.
Kereta berjalan lamban. Bajunya masih basah oleh air hujan. Ia
kedinginan. Matanya sayu. Tatapannya kosong. Ia tak tahu tujuan. Ia
tetap berdiri mematung sendirian. Sementara derit kereta begitu keras.
Kereta berhenti. Ia tetap berdiri dalam gerbong lusuhnya. Berdiri dalam
ketidakpastian. Ia menjadi terasing dalam dunia-Nya. Ia sedang bergelut
dengan waktu hampa disekelilingnya. Kenangan itu masih tersisa dipelupuk
matanya. Ia berteriak memecah malam bersama rintik hujan yang turun
dengan derasnya. Dan Ia merintih dalam kesendiriannya.
“
Ya Allah, Aku tak pernah lari dari kenyataanmu. Ya Allah, Aku tak
pernah lalai dalam menjalankan perintah-Mu. Aku tak pernah lalai dalam
menjalankan tugas-Mu. Tak pernah mengeluh dalam cobaan-Mu. Sedikitpun
tak pernah. Aku mencoba tegar, Ya Allah. Tapi apakah ini balasan yang
…………………!!!!!!!!!!”
“Allahu Akbar Allahu Akbar.”
Sayup sayup terdengar Adzan shubuh menyapanya. Mengingatkannya tentang sebuah keputus asaan. Menyadarkan pertengakaran hebat mulut
dan hatinya. Matanya kembali meneteskan air mata bersama nasihat
nasihat emas Abi dan Umminya. Hatinya bergetar bersama keteguhan
keduanya dalam berjuang di
jalan-Nya. Mengingatkan kembali dalam kenangannya. Petuah petuah
keduanya yang terus ter ngiang di pelupuk matanya. Tangisnya makin
menjadi jadi. Ia menyesal, telah menyalahkan Allah dalam setiap
cobaannya. Ia sadar panggilan itu mengingatkannya. Ia menangis dalam
hujan shubuh itu.
Ia
susuri setapak demi setapak jalanan yang basah dihadapannya. Menenteng
tas ransel yang tak tahu apa isinya. Ia memenuhi panggilan-Nya. Ketika
banyak manusia yang tertidur oleh kenikmatan dunianya. Ia berjalan
bersama istigfar-Nya. Mereguk iman bersama cinta-Nya.
Hujan
diluar masih turun dengan lembutnya. Shubuh itu ia lepaskan gundah
dalam setiap munajatnya. Shubuh itu ia menangis bersama kalam kalam
Allah yang menyertainya. Shubuh itu mengajarinya, bahwa sabar dan
tawakkal adalah kuncinya. Dan shubuh itu setitik cahaya bersinar
dipelupuk matanya. Membuat ia lebih kuat dalam mengarungi bahtera
kehidupannya. Menjaga jiwanya agar tetap terjaga di dalam sujud
malam-Nya. Mengokohkan jiwanya agar tetap gagah dan pantang menyerah
dalam setiap langkahnya. Ia sadar. Ia tak harus menyalahkan Allah dalam
setiap urusannya. Ia harus tangguh dan kuat berada dalam jalan-Nya. Dan
Allah-lah yang akan menyelamatkannya.
Dalam sujud terakhirnya, ia menangis. Seketika terngiang ayat terakhir yang dibaca Abinya dalam tahajud terakhir bersamanya. “faidza Azzamta fatawakkal Alallah, innallaha yuhibbul mutawakkilin.”
Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang bertawakkal. Dalam
sujud terakhirnya . ia belajar tentang keteguhan dan kesabaran dengan jejak air mata yang masih tersisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar